Retorika Aristoteles


 

Pada kesempatan sebelumnya kita sudah membahas apa itu Retorika

Adapun pada kesempatan kali ini kita akan membahas Teori Retorika Aristoteles. 

Menurut Richard West dan Lynn H. Turner dalam buku Introducing Communication Theory: Analysis and Application (2008), teori retorika memiliki cakupan pemikiran yang sangat luas dalam bidang komunikasi. 

Walaupun demikian, teori retorika Aristoteles ini dituntun oleh dua asumsi, yakni pembicara yang efektif harus mempertimbangkan pendengar mereka, dan pembicara yang efektif menggunakan bukti dalam presentasinya. 

- Asumsi 1: Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khalayak atau pendengar mereka. 

Aristoteles menjelaskan bahwa hubungan pembicara dan khalayak harus dipertimbangkan. Artinya para pembicara tidak boleh menyusun atau menyampaikan pidatonya tanpa mempertimbangkan khalayak mereka. 

Asumsi ini menjelsakan bahwa komunikator harus berpusat pada khalayak mereka, serta memikirkan bahwa khalayak adalah sekelompok orang yang memiliki motivasi, keputusan, serta pilihan, dan bukannya menganggap khalayak sebagai kelompok individu yang homogen dan serupa.


- Asumsi 2: Pembicara yang efektif harus menggunkan sejumlah bukti dalam presentasinya. 

Bukti yang disebutka disini adalah Ethos (etika dan kredibilitas), Pathos (emosi), dan Logos (logika). mari kita bahas satu per satu.

  • Ethos. Ini merujuk pada Karakter, intelegensi, serta niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara ketika sedang berpidato.
  • Pathos. Berkaitan dengan emosi yang dimunculkan dari para pendengar. Pathos merupakan bukti emosional. 
  • Logos. Ini berupa bukti logis yang digunakan pembicara. Menurut Aristoteles, logos mencakup penggunaan bahasa yang jelas.

Dapat disimpulkan bahwa teori retorika Aristoteles menjabarkan bahwa retorika sebagai alat persuasi, hendaknya didasarkan pada ethos, logos, dan pathos. Teori ini juga menjelaskan bahwapembicara harus mempertimbangkan khalaknya sebaik mungkin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iklan Konvensional, dan perbandingannya dengan iklan digital

Komunikasi Massa